Sosok Jokowi di New York Times

Sosok Jokowi di New York Times
Munculnya sosok Joko Widodo (Jokowi) dalam arena pemilihan Gubernur DKI Jakarta menggelitik sebuah surat kabar Amerika Serikat, New York Times. Menurut media ini, kemunculan Jokowi mewakili generasi baru politik di Indonesia.

Artikel tentang Jokowi yang dimuat New York Times berjudul "Joko Widodo, Breathing New Ideas Into Jakarta Election". Hasil pada pemilu kada DKI putaran pertama suara perolehan Jokowi yang mencapai 43 persen, mengejutkan banyak pihak. Media ini menyebutkan kemunculan Jokowi mewakili generasi baru politik. Sebab, biasanya politisi sering berasal dari elite terkait atau memiliki hubungan dengan Soeharto dan militer.

New York Times juga menceritakan bagaimana awal mula karir Jokowi hingga pencalonan dirinya sebagai Gubernur Jakarta. Namun media ini juga mempertanyakan, apakah Jokowi bisa sukses membangun Jakarta seperti keberhasilannya di Surakarta, mengingat perbedaan jumlah penduduk yang signifikan dan permasalahannya yang lebih rumit.(DNI)http://www.metrotvnews.com


Pemilihan Gubernur DKI Jakarta rupanya bergaung hingga ke negeri Abang Sam. Harian New York Times dalam sebuah laporannya menuliskan cerita tentang pesta demokrasi warga Ibu Kota. Dalam artikel yang berjudul "Outsider Breathing New Ideas Into Jakarta Election"--diubah dari judul semula, "Joko Widodo, Breathing New Ideas Into Jakarta Election", media ini membuka tulisan dengan keterkejutan publik atas kemenangan Joko Widodo pada putaran pertama.

Media ini menulis, "Di negara di mana politikus sering kali berasal dari elite yang terkait atau memiliki hubungan dengan mendiang Presiden Soeharto dan militer Joko, dikenal dengan julukan Jokowi, muncul untuk mewakili generasi baru politikus." Media ini menyoroti tokoh yang akrab disapa Jokowi, seorang eksportir furnitur yang masuk politik untuk pertama kali tahun 2005, yang secara luas dianggap bersih dan mampu memimpin ibu kota di negara yang kental aroma korupsinya--Transparency International memeringkat Indonesia di urutan ke-100 dari 182 negara pada tahun 2011--dan keberhasilannya menata Solo.

Namun, media ini juga mempertanyakan apakah dia bisa meniru keberhasilan di Surakarta, sebuah kota dengan 520 ribu penduduk, jika menang dan memimpin Jakarta, kota berpenduduk 10 juta. "Jakarta adalah salah satu kota besar dunia, dan mengelolanya tidak sesederhana menuliskan huruf A-B-C," kata Fauzi Bowo, yang juga dikutip dalam tulisan ini. "Anda perlu pengalaman, Anda perlu membuktikan bahwa Anda mampu, Anda perlu hati untuk kota ini."

Menurut New York Times, siapa pun yang memenangkan gubernur akan mengontrol anggaran senilai US$ 4,3 miliar dan mengawasi jantung keuangan dan politik dari salah satu negara yang paling cepat berkembang di dunia dari sisi ekonomi. "Yang membuatnya menjadi kolam madu kecil," kata Douglas Ramage, analis Bower Group Asia, yang menjadi salah satu narasumber tulisan itu. Ia mencatat bahwa kekayaan Jakarta telah membantu menyediakan "bahan bakar" bagi korupsi di Indonesia.

Ramage juga menyoroti kronisme yang beroperasi di bawah permukaan. Ia mengingatkan, akan sulit bagi Jokowi untuk merombak birokrasi model ini dan menekan korupsi. New York Times menutup tulisan dengan Jokowi yang teguh dalam perjuangannya. Ditanyakan apa artinya jika "gajah" mengalahkan dia pada hari Kamis ini, media ini menulis: Jokowi tertawa dan berkata, "Nah, semutlah yang akan menang," katanya. http://www.tempo.co


Fenomena muncul dan suksesnya Walikota Solo, Joko Widodo alias Jokowi dalam pemilihan gubernur DKI Jakarta ternyata tak luput dari perhatian media di luar negeri. Koran New York Times yang merupakan salah satu media cetak terbesar dan paling berpengaruh di AS ikut menyoroti kiprah Jokowi di Jakarta. Dua tulisan muncul di situs New York Times. Yang pertama berjudul Outsider Breathing New Ideas Into Jakarta Election, yang ditulis oleh Sara Schonhardt. Dalam tulisan itu disebutkan bahwa kampanye Pilgub DKI kadang mirip konser musik rock dengan yel-yel, acungan kepalan tangan serta baju-kotak-kotak yang bertebaran.

“This is only the second time Jakarta residents have voted for their city’s leader directly, and Mr. Joko, with his signature checkered shirts and populist manner, has injected new enthusiasm into the process. In a country where politicians often come from a tight-knit elite or have ties to the late president and military strongman Suharto, Mr. Joko, best known by his nickname Jokowi, appears to represent a new breed of politician, analysts say [Inilah kali kedua rakyat Jakarta memilih langsung pemimpin mereka dan Mr Joko yang berciri khas baju kotak-kotak dan sikap populis telah menyuntikkan antusiasme baru dalam proses politik. Di negeri di mana politisi sering berasal dari lingkaran kaum elite yang sulit ditembus atau terkait dengan sosok mendiang Suharto, Jokowi muncul sebagai politisi jenis baru],” tulis New York Times.

Dikutip pula pendapat dari Douglas Ramage, analis dari Bower Group Asia yang juga spesialis Indonesia. “Para pemilih mencari pemerintahan dan bersih dan terpercaya. Sesuatu yang identik dengan partai sudah runtuh di Indonesia,” ujarnya. http://www.solopos.com