Soegeng Sarjadi Pengamat Politik Senior Meninggal

Jokowi Melayat Soegeng Sarjadi setelah rapat kabinet terbatas. Soegeng Sarjadi menghembuskan napas terakhir sekira pukul 09.05 WIB di RS Pertamedika Sentul City, Kota Bogor. Soengeng sendiri sudah tiga hari dirawat di RS Pertamedika setelah kesehatannya menurun karena mengidap kanker tiroid. Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla langsung melayat pendiri Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS), Soegeng Sarjadi. Sementara, Juru Bicara Wakil Presiden, Husein mengatakan, JK langsung melayat ke rumah duka dan tidak mampir dulu ke Kantor Wakil Presiden.

Pengamat politik sekaligus pengusaha Soegeng Sarjadi meninggal dunia pada usia 72 tahun. Chief Executive Officer Kodel Group itu mengembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Perta Medika, Sentul, Bogor, Jawa Barat. Almarhum menghembuskan nafas terakhirnya di RS Petra Medika Sentul. Menurut CEO Soegeng Sarjadi School of Government, Fadjroel Rachman, almarhum meninggal dunia pada usia 72 tahun.

Almarhum menghembuskan nafas terakhirnya pada Kamis (30/10/2014) pukul 09.05 WIB. "Almarhum sakit," jelas Fadjroel tanpa merinci lebih jauh. Fadjroel belum bisa memberi kabar akan dikuburkan di mana Soegang Sarjadi. Belum diketahui juga akan dibawa kemana jasad almarhum setelah dari rumah sakit. "Almarhum punya rumah dua di Salabintana dan Jakarta. Almarhum ini orang baik," jelas dia.

Informasi meninggalnya Soegeng Sarjadi terkonfirmasi oleh salah satu peneliti Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS) Suwantoro. "Iya, betul tadi pagi Pak Soegeng meninggal dunia," sebut Suwantoro saat dihubungi INILAH.OM, Kamis (30/10/2014). Soegeng meninggal dunia di RS Perta Medika Sentul City, Bogor, Jawa Barat.

Diinformasikan, almarhum meninggal pukul 09:00 pagi tadi. Soegeng meninggal dunia di usia 72 tahun. Hingga akhir hayatnya, pria kelahiran Pekalongan 5 Juni 1942 ini aktif di Soegeng Sarjadi Syndicate. Sejumlah aktivitas SSS di antaranya mengembangkan demokratisasi di Indonesia.

Hingga kini belum diketahui di mana jenazah akan dikebumikan. Namun kabar meninggalnya pria kelahiran Pekalongan, Jawa Tengah, 5 Juni 1942, tersebut meramaikan jagat jejaring sosial Twitter. Sejumlah akun menuliskan ungkapan berdukacita atas kepergian bekas politikus Partai Demokrasi Indonesia itu.

Pengamat politik dari Charta Politika, Yunarto Wijaya, mencuit kedukaan atas meninggalnya Soegeng. "RIP pak sugeng :( ," cuit akun @yunartowijaya. Budayawan Sujiwo Tejo juga mengungkapkan kehilangannya atas meninggalnya Soegeng. "Met jalan Mas Soegeng, #utangRasa," cuit Sujiwo melalui akun @sudjiwotedjo. - Berbagai Sumber

#Lihat : Biografi Soegeng Sarjadi
Selengkapnya

Muhamad Arsyad - Penghina Presiden Jokowi Dimaafkan

Politisi PDI Perjuangan yang tak lain mantan Koordinator Tim Hukum Kampanye Nasional Jokowi-JK saat Polpres lalu, Henry Yosdiningrat memastikan, Presiden Jokowi akan memaafkan Arsyad. Namun, permasalahan hukum terhadap Arsyad akan tetap berjalan. "Jadi jangan disikapi dengan lebay. Seolah-oleh kita tega terhadap orang miskin, tidak sama sekali. Ini karena proses hukum memang sedang berjalan," kata Henry kepada Tribunnews, Rabu (29/10/2014).

Sebelumnya diberitakan, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Pol Boy Rafli Amar membenarkan adanya penangkapan terhadap pelaku yang diduga melakukan penghinaan terhadap Presiden Joko Widodo (Jokowi). "Ada, terkait ITE (informasi dan transaksi elektronik)," ujar Boy, saat ditemui di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu (29/10/2014), ketika dikonfirmasi mengenai pemberitaan di berbagai media.

Henry kemudian menjelaskan, kasus ini dilaporkan sebelum Jokowi terpilih menjadi presiden, saat kampanye Pilpres beberapa waktu lalu. Ketika itu, ia diminta untuk melaporkan adanya gambar yang menghina Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri dan Jokowi, yang saat itu sebagai calon presiden. "Jadi, ini perlu saya tegaskan. Kasus ini bukan delik aduan dan biarkan hukum yang berbicara. Saya laporkan ke Mabes Polri kira-kira pada dinihari saat kampanye pilpres atau sebelum pencoblosan. Kemudian, saya diperiksa sebagai saksi pelapor sebagai tim kuasa hukum Jokowi. Pak Jokowi juga sudah diperiksa oleh pihak Mabes Polri," cerita Henry.

Sebagai kader PDIP, lanjutnya, ia diminta oleh Sekjen DPP PDI Perjuangan, ketika itu masih dijabat Tjahjo Kumolo terkait gambar seorang perempuan dan seorang lelaki yang beredar di masyarakat ke Mabes Polri. "Saya dengar pada tanggal 23 Oktober, pelakunya sudah ditangkap. Dan ternyata kebetulan yang bersangkutan adalah tukang sate. Tolong jangan didramatisir seolah-oleh kami berani menghukum orang miskin, tidak sama sekali.

Kalau kemudian pelakunya oknum aparat sekalipun, proses hukum tetap berjalan. Tak usahlah sujud sukur, pasti Pak Jokowi memaafkan," Henry menegaskan. "Jangan kemudian dianggap hukum tidak bisa bagi orag miskin. Hukum tetap berjalan, sekaligus memberikan pembelajaran kepada publik atas kasus ini. Diluar proses hukum, Presiden Jokowi pasti memaafkan, namun tidak bisa hukum kemudian dibiarkan begitu saja, harus tetap berjalan," Henry menegaskan.

Mursidah, ibunda Muhammad Arsyad (23) diberitakan sebelumnya mengaku terpukul setelah buah hatinya ditangkap polisi lantaran dituduh menghina Presiden RI Joko Widodo. Bahkan, Mursidah yang ditemui di Jalan Haji Jum RT 09/01 Kelurahan Rambutan, Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur, Rabu (29/10/2014) pagi, mengakui bersedia sembah sujud meminta maaf di hadapan Presiden RI Joko Widodo. "Saya mohon ketemu Pak Jokowi, saya minta maaf pak, maafkan anak saya. Anak saya tidak tahu apa-apa, saya siap sujud minta maaf di kaki Pak Jokowi. Saya mohon pak," kata Mursidah yang terus menangis.

Bahkan, kala itu, Mursidah terus sambil bersujud di hadapan jurnalis ketika diwawancarai. Ia juga menangis sesenggukan, memohon agar anaknya dibebaskan. "Kalau perlu tukar nyawa anak saya dengan saya. Saya mohon bebaskan anak saya pak," kata Mursidah terus menerus sujud di hadapan wartawan. - Tribunnews
Selengkapnya

Tukang Tusuk Sate Menghina Jokowi di Facebook

Pemuda 24 tahun berinisial MA ditahan di Markas Besar Polisi Republik Indonesia karena dituduh menghina Presiden Joko Widodo di media sosial Facebook. Penahanan MA ini sontak mengejutkan warga dunia maya yang biasa disapa netizen. Mereka menyayangkan penahanan MA. MA ditahan di Markas Besar Polisi Republik Indonesia sejak Kamis pekan lalu hingga hari ini. Warga Ciracas, Jakarta Timur, ini memuat beberapa konten yang menghina Jokowi dalam akun Facebook pribadinya saat kampanye pemilihan presiden Juli lalu. Menurut Irfan Fahmi, kuasa hukum MA, dia hanya ikut-ikutan pengguna Facebook lain yang riuh rendah mengikuti perkembangan politik. Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Mabes Polri Brigadir Jenderal Boy Rafli Amar mengatakan belum mengetahui kejelasan kasus ini.

Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia menahan MA, pemuda berusia 24 tahun, yang diduga menghina Presiden Joko Widodo melalui media sosial Facebook. MA ditangkap dan ditahan sejak Kamis, 23 Oktober lalu. Kuasa hukum MA, Irfan Fahmi, mempertanyakan alasan penangkapan kliennya yang merupakan tukang tusuk sate itu. Sebab, kata Irfan, MA bukan satu-satunya warga sipil yang mem-bully salah satu pasangan calon presiden. Dia mengaku belum mengetahui siapa yang melaporkan MA ke polisi. Menurut Irfan, MA tidak mempunyai pengetahuan mendalam mengenai media sosial dan dampaknya.

Pada saat hari pencoblosan pilpres pun, ucap Irfan, MA juga tak menggunakan hak suaranya. Menurut dia, inilah yang menunjukkan kliennya bukan tim sukses dari salah satu calon presiden. Kamis pagi, 23 Oktober lalu, empat orang laki-laki berpakaian sipil mendatangi rumah MA di Gang Jum, Kramat Jati, Jakarta Timur. Mereka menanyakan beberapa hal, kemudian langsung menciduk MA ke Mabes Polri. Setelah memeriksa selama 24 jam, Mabes Polri menetapkan MA sebagai tersangka pada Jumat siang atau keesokan harinya. MA dijerat beberapa pasal berlapis, yakni pasal pencemaran nama baik dalam Undang-Undang ITE. Ancaman hukuman untuk MA mencapai 10 tahun penjara. Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigjen Pol Boy Rafli Amar masih belum bisa menjelaskan alasan penangkapan dan penetapan MA sebagai tersangka.

Tim pengacara Presiden Joko Widodo saat masih berkampanye, Teguh Samudra, membenarkan telah melaporkan MA ke Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia pada 27 Juli 2014 atas dugaan pencemaran nama baik. Dia menganggap kelakuan pemuda berusia 24 tahun yang bekerja sebagai tukang tusuk sate ini sudah kelewat batas sehingga dilaporkan ke polisi. Saat melaporkan MA, Teguh bertindak sebagai saksi. Sedangkan kuasa hukumnya adalah Henry Yosodiningrat. Beberapa hari setelah laporan tersebut, Mabes Polri langsung memblokir akun Facebook milik AA. Kamis pagi, 23 Oktober 2014, empat orang laki-laki berpakaian sipil mendatangi rumah MA di Gang Jum, Kramat Jati, Jakarta Timur.

Mereka menanyakan beberapa hal dan langsung menciduk MA ke Mabes Polri. Setelah memeriksa selama 24 jam, Mabes Polri menetapkan MA sebagai tersangka pada Jumat siang atau keesokan harinya. MA dijerat beberapa pasal berlapis, yakni pasal pencemaran nama baik dalam Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik. - Tempo -
Selengkapnya

Menteri Nyentrik Susi Pudjiastuti di Kabinet Kerja Jokowi

Tepat pada 28 Oktober 2014, atau hari ini, Bangsa Indonesia merayakan Hari Sumpah Pemuda yang ke 86 tahun. Di hari yang bersejarah ini, Menteri Perikanan dan Kelautan, Susi Pudjiastuti turut serta memaknai perjuangan para pemuda dahulu. Menurut Menteri yang dikenal nyentik, gaul, serta berjiwa muda ini, Hari Sumpah Pemuda dimaknai sebagai salah satu hari seremonial di mana seluruh bangsa Indonesia harus menyatukan persepsi perjuangan dan juga kebangsaan. "Sumpa Pemuda tidak didapat dari satu hal yang mudah, itu didapat karena mereka berhasil menyatukan bangsa yang beragam," terang Susi, ditemui di kantor Kemenko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Selasa (28/10/2014).

Sumpah Pemuda, lanjut Susi, bukan melulu mengenai kaum muda yang harus selalu semangat untuk meneruskan perjuangan bangsa. Namun, kaum tua pun harus punya semangat muda. "Kita ini kurang mantab. Sumpah pemuda itu ya jelas bukan hanya pemuda-pemudanya yang harus menyatukan bangsa, tapi yang tua juga harus punya semangat muda," katanya. Dengan begitu, lanjutnya Indonesia bisa benar-benar menjadi negara yang berdaulat dan berdiri di negeri sendiri. "Intinya tidak membiarkan natural resources kita yang begitu besar terutama kekayaan kelautan kita yang begitu besar, di mana 70 persen adalah wilayah perairan diambil oleh orang lain," pungkasnya.

Susi Pudjiastuti (lahir di Pangandaran, 15 Januari 1965; umur 49 tahun) adalah seorang Menteri Kelautan dan Perikanan dari Kabinet Kerja 2014-2019 yang juga pengusaha pemilik dan Presdir PT ASI Pudjiastuti Marine Product, eksportir hasil-hasil perikanan dan PT ASI Pudjiastuti Aviation atau penerbangan Susi Air dari Jawa Barat. Hingga awal tahun 2012, Susi Air mengoperasikan 50 pesawat dengan berbagai tipe seperti 32 Cessna Grand Caravan, 9 Pilatus PC-6 Porter dan 3 Piaggio P180 Avanti. Susi Air mempekerjakan 180 pilot, dengan 175 di antaranya merupakan pilot asing. Tahun 2012 Susi Air menerima pendapatan Rp300 miliar dan melayani 200 penerbangan perintis.

Ayah dan ibunya Susi Pudjiastuti yaitu Haji Ahmad Karlan dan Hajjah Suwuh Lasminah berasal dari Jawa Tengah yang sudah lima generasi lahir dan hidup di Pangandaran. Keluarganya adalah saudagar sapi dan kerbau, yang membawa ratusan ternak dari Jawa Tengah untuk diperdagangkan di Jawa Barat. Kakek buyutnya Haji Ireng dikenal sebagai tuan tanah. Susi hanya memiliki ijazah SMP. Setamat SMP ia sempat melanjutkan pendidikan ke SMA. Namun, di kelas II SMAN Yogyakarta dia berhenti sekolah. Setelah tidak lagi bersekolah, dengan modal Rp750 ribu hasil menjual perhiasan, pada 1983 Susi mengawali profesi sebagai pengepul ikan di Pangandaran.

Bisnisnya terus berkembang, dan pada 1996 Susi mendirikan pabrik pengolahan ikan PT ASI Pudjiastuti Marine Product dengan produk unggulan berupa lobster dengan merek “Susi Brand”. Ketika bisnis pengolahan ikannya meluas dengan pasar hingga ke Asia dan Amerika, Susi memerlukan sarana transportasi udara yang dapat dengan cepat mengangkut lobster, ikan, dan hasil laut lain kepada pembeli dalam keadaan masih segar. Susi menerima banyak penghargaan antara lain Pelopor Wisata dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat tahun 2004, Young Entrepreneur of the Year dari Ernst and Young Indonesia tahun 2005, serta Primaniyarta Award for Best Small & Medium Enterprise Exporter 2005 dari Presiden Republik Indonesia.

Tahun 2006, ia menerima Metro TV Award for Economics, Inspiring Woman 2005 dan Eagle Award 2006 dari Metro TV, Indonesia Berprestasi Award dari PT Exelcomindo dan Sofyan Ilyas Award dari Kementerian Kelautan dan Perikanan pada tahun 2009. Pada tahun 2008, ia mengembangkan bisnis aviasinya dengan membuka sekolah pilot Susi Flying School melalui PT ASI Pudjiastuti Flying School. Pada Minggu, 26 Oktober 2014, dalam pengumuman Kabinet Kerja Pemerintahan Jokowi-JK Ibu Susi Pudjiastuti ditetapkan oleh Presiden RI Joko Widodo menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan.
Selengkapnya