Saatnya Bersatu Mendukung Presiden Jokowi

Saatnya Bersatu Mendukung Presiden JokowiSekretaris Jenderal Partai Persatuan Pembangunan (PPP) kubu Djan Fraidz, Dimyati Natakusumah mengatakan tak ada lagi Koalisi Merah Putih (KMP) ataupun Koalisi Indonesia Hebat (KIH).

Hal itu disampaikannya menanggapi kemungkinan akan keluar dari KMP yang disampaikan Ketua Umum Djan Faridz. "Sudah tidak ada itu KMP atau KIH dalam pemerintahan," ujarnya saat dihubungi ROL, Ahad (15/3).

Menurutnya, sudah tidak perlu ada dua kelompok dalam pemerintahan. Sudah saatnya bersatu mendukung Presiden Jokowi. Ia juga mengatakan di dalam DPR juga tidak ada kelompok-kelompok berdasarkan koalisi. Semua mendukung bersatu dalam pemerintahan.

Ia mengibaratkan tak ada permasalahan soal suku asal para anggota dewan. Jawa, Sunda, Betawi dan sebagainya melebur menjadi satu. Tidak ada pembeda-bedaan. Hal itu juga berlaku dalam dukungan kepada Presiden Jokowi.

Saat dikonfirmasi akan mendukung KIH, ia menolak dikatakan demikian. Ia mengaku hanya mendukung Presiden Jokowi memerintah Indonesia.

Dimyati mengaku belum ada islah antara kubunya dengan pihak Romahurmuziy atau Romi. Padahal Jumat (13/3) lalu telah terjadi pertemuan keduanya dalam Muktamar Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi) di Batam, Kepulauan Riau. Pertemuan itu digadang-gadang sebagai bentuk islah kedua kubu.

Dimyati mengatakan belum ada islah sampai Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, Yasona Laoly menghentikan intervensinya pada PPP.
Selengkapnya

Empat Isu Penting Ini Jokowi-JK Beda Pendapat

Empat Isu Penting Ini Jokowi-JK Beda PendapatSejak dilantik sebagai presiden dan wakil presiden pada 20 Oktober 2014, Joko Widodo dan Jusuf Kalla beberapa kali berbeda pendapat. Kerap suara keduanya bertolak belakang dalam memandang suatu persoalan. Apa saja perbedaan pandangan Jokowi dengan Jusuf Kalla?

1. Perampingan kabinet
Jokowi menawarkan perampingan kabinet agar tidak terjadi tumpang-tindih kewenangan antar-kementerian. Jokowi mengatakan perampingan yang dimaksud tidak selalu mengurangi jumlah menteri. Namun, ujar dia, bisa mengurangi jumlah eselon di sejumlah kementerian.

Jusuf Kalla berpandangan sebaliknya. Perampingan kabinet justru akan menguras banyak energi. Kalla menganggap jumlah 34 menteri untuk mengurus 250 juta rakyat Indonesia sudah cukup ramping.

2. Lelang menteri
Jokowi hendak menggunakan sistem yang sama ketika menjabat Gubernur DKI Jakarta, yaitu lelang jabatan. Jokowi, yang kala itu belum dilantik sebagai presiden, ingin menyeleksi dan melelang menteri yang bakal menjadi pembantunya. "Ya, mirip-mirip lelang jabatan," ucap Jokowi pada Juli 2014.

Sebaliknya, Jusuf Kalla menuturkan lelang jabatan tak bisa dipakai untuk mengisi posisi menteri. Kalla beralasan, jabatan menteri sangat penting sehingga sebaiknya dipilih langsung oleh presiden. "Menteri itu dicari, rekam jejaknya harus detail," kata Kalla.

3. Pelantikan Komisaris Jenderal Budi Gunawan sebagai Kepala Polri
Presiden Jokowi menyatakan akan membatalkan pencalonan Budi Gunawan sebagai Kepala Polri. Pernyataan Jokowi itu disampaikan Ketua Tim 9 Syafii Maarif. Dia mengaku ditelepon langsung oleh Jokowi terkait dengan pembatalan ini.

Sebaliknya, Kalla justru menuturkan jadi atau tidaknya Budi Gunawan dilantik bergantung pada putusan praperadilan. Kalla juga mengatakan akan melantik Budi Gunawan jika menduduki jabatan sebagai presiden.

4. Pembentukan Kantor Staf Kepresidenan
Presiden Jokowi membentuk Kantor Staf Kepresidenan. Kantor ini dipimpin langsung kawan lama Jokowi, Luhut Binsar Panjaitan. Jusuf Kalla menyatakan tak tahu adanya pelantikan Luhut untuk duduk di posisi tersebut. - Tempo
Selengkapnya

Joko Widodo Menjadi Presiden RI ke-7

Jokowi sebagai presiden Indonesia - Joko Widodo akan menjadi Presiden Republik Indonesia ke tujuh. Joko Widodo dinyatakan sebagai presiden negara demokrasi terbesar ketiga di dunia. Editor BBC Indonesia, Karishma Vaswani, menjelaskan :

Saya pertama kali bertemu Joko Widodo, atau Jokowi sebagaimana ia sering disebut, di salah satu taman hijau di Jakarta--sesuatu yang langka di ibu kota Indonesia ini.

Kala itu, ia baru saja terpilih sebagai Gubernur DKI Jakarta dengan mengejutkan para elite politik melalui kemenangan luar biasa berkat dukungan dari warga Jakarta kelas bawah dan menengah.

Awalnya tidak ada yang menyadari Jokowi berjalan sambil menikmati musik orkestra di taman dengan santai tanpa pengawalan keamanan, kemegahan, atau gembar-gembor.

Mengenakan kemeja putih sederhana, celana panjang hitam dan sandal kulit, ia tampak sama dengan orang awam.

Banyak pihak mengatakan citra “pria bersahaja” seperti yang saya saksikan di taman itulah yang membantunya terpilih sebagai presiden Indonesia.

"Ini akan menjadi pencapaian yang paling penting dari kepresidenannya," kata Dharsono Hartono, seorang pengusaha Indonesia dan pendukung Jokowi.JokowiJokowi didukung PDIP, Partai Nasdem, Partai Kebangkitan Bangsa dan Hanura

"Dia memungkinkan kita untuk mengatakan kepada anak-anak kita, 'Lihatlah Jokowi. Dia dulu menjual furnitur dan dibesarkan di dekat sebuah perkampungan kumuh dan sekarang dia presiden kita. Sekarang siapa pun bisa menjadi presiden'."
Selengkapnya

Jokowi Person of The Year 2014 Majalah TIME

Person of The Year 2014 Majalah TIME
Nama Presiden Joko Widodo masuk dalam polling Person of The Year yang digelar Majalah TIME. Meski tidak menduduki puncak peringkat, Jokowi berhasil menggunguli Presiden Amerika Serikat Barack Obama.

Dikutip dari situs TIME, Rabu (10/12/2014) malam, pejuang Ebola berada di peringkat teratas pilihan redaksi majalah asal Paman Sam tersebut. Disusul oleh Ferguson Protesters di peringkat kedua dan Vladimir Putin di peringkat ketiga. Sementara Massoud Barzani berada di peringkat keempat disusul Jack Ma.

Sedangkan untuk pilihan pembaca melalui polling, gelar jawara Person of The Year 2014 disabet Perdana Menteri India Narendra Modi dengan perolehan suara mencapai 16,2 persen. Ferguson Protesters berada di posisi kedua dengan raihan suara 9,2 persen.

Berikut 15 besar Person of The Year versi pilihan pembaca TIME:

1. Narendra Modi (16,2%)
2. Ferguson Protestors (9,2%)
3. Joshua Wong (7%)
4. Malala Yousafzal (4,9%)
5. Ebola Doctors and Nurses (4,5%)
6. Vladimir Putin (4,3%)
7. Laverne Cox (3,4%)
8. Joko Widodo (2,7%)
9. Pope Francis (2,6%)
10. Chibok Girls (2,5%)
11. Barack Obama (2,2%)
12. Beyonce (2,1%)
13. Jennifer Lawrance (2%)
14. Angela Merkel (1,8%)
15. Taylor Swift (1,7%)

Nah, untuk posisi Jokowi yang juga mantan Gubernur Jakarta, pembaca menempatkannya di urutan kedelapan dengan mengantongi suara 2,7 persen. Sementara Obama yang sebelumnya telah dua kali terpilih menjadi Time of The Year berada di peringkat ke-11 dengan suara 2,2 persen.

Sebelumnya dalam polling yang dibuka sejak pertengahan November hingga 6 Desember 2014 itu, Jokowi pernah menempati peringkat ke-7 dengan 2,8 persen dan Obama di peringkat ke-12 dengan 2,3 persen. Sayang posisi tersebut bergeser hingga penutupan polling yang disampaikan melalui Twitter, Facebook dan situs TIME.com sendiri. - Detik


Selengkapnya

Jokowi Bangun Jalan Rp 500 Miliar di Gorontalo

Presiden Joko Widodo (Jokowi) blusukan ke proyek Gorontalo Outter Ring Road (GORR). Proyek jalan lingkar luar non tol ini memakan dana Rp 500 miliar dengan panjang jalan sekitar 45 kilometer.

Saat Gubernur Gorontalo Rusli Habibie menyebutkan dana Rp 500 miliar untuk pembangunan GORR. Presiden Jokowi menimpalinya dengan santai.

"Rp 500 miliar itu kecil, palingan tiap tahun mintanya cuma Rp 200 miliar," ujar Presiden Joko Widodo,‎ di proyek GORR, Jumat (5/12/2014).

Menurutnya, dana Rp 500 miliar bukan dana yang besar karena Presiden telah melakukan pengalihan subsidi BBM. Dengan adanya pengalihan subsidi BBM, Jokowi mengklaim bisa menghemat triliunan Rupiah‎.

"Ini saya sampaikan, kita ingin anggaran kita tepat sasaran," ujarnya.

Jokowi menambahkan dana-dana pengalihan subsidi BBM harus dipakai untuk membangun hal yang produktif, bukan konsumtif.

"Masa kalau enggak dialihkan, Rp 1.400 triliun tiap hari kita bakar. Kalau dipakai untuk membangun jalur kereta api seluruh Indonesia paling hanya Rp 350 triliun," kata Jokowi.
Selengkapnya