Strategi Jokowi dan PDI-P Setelah Pemilu Legislatif

Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri didampingi Puan Maharani dan Joko Widodo berjalan dari rumahnya menuju TPS 35, di Kebagusan, Jakarta Selatan, Rabu (9/4/2014).

Menang "tebal" dalam pemilihan legislatif merupakan harapan Joko Widodo. Bakal calon presiden PDI Perjuangan itu ingin parlemen menjadi pendukung program pemerintah, bukan malah menjadi ganjalan. 

Dalam beberapa orasi kampanyenya, Jokowi berulang kali menegaskan bahwa yang terjadi jika PDI Perjuangan tidak menguasai parlemen adalah berakhir dengan praktik politik transaksional, lobi-lobi, yang pada ujung-ujungnya "main duit". Tetapi, pemahaman itu tampaknya tak sampai dengan baik di konstituen.

Berkaca pada hitung cepat Litbang Kompas, PDI-P lolos dari target 27 persen suara. "Banteng Hitam" hanya memperoleh 19,52 persen di urutan pertama, disusul Partai Golongan Karya dengan perolehan 15,22 persen dan Partai Gerindra 11,58 persen. 

Di tengah berprosesnya hitung cepat, Rabu sore, Jokowi keluar dari rumah dinas gubernur di Jalan Taman Surapati Nomor 7, Menteng, Jakarta Pusat. Jokowi duduk sendirian, dengan tangan ditumpuk di atas lutut di teras rumahnya. Jokowi hanya menggeleng ketika dihampiri wartawan yang bertanya soal suara PDI-P yang berada di bawah target.

"Ya, masyarakat sudah memilih. Ya, begitulah hasilnya. Apa pun, ya alhamdulilah, PDI-P urutan teratas," ujar Jokowi di rumah dinas. 

Jokowi tidak meralat pernyataannya terdahulu. Jika kondisi PDI-P tak dominan dalam pemerintahan, Jokowi mengatakan hal itu hampir mirip dengan Jakarta, di mana kursi Banteng Hitam di DPRD hanya sebesar 11 persen, di bawah Demokrat dan PKS. 

"Ya, ndak apa-apa toh. Apa kamu melihat kita transaksional di Jakarta ini? Ini semua tergantung kepemimpinan, berani atau tak berani. Itu saja. Apa pun yang terjadi, kita hadapi," ujar Jokowi dalam kesempatan berbeda.

"Jokowi effect" tak "ngefek"

Pengamat politik Yudi Latief mengatakan, fenomena "Jokowi effect" di masyarakat rupanya tidak berpengaruh banyak terhadap suara PDI-P. "Tidak ada pengaruhnya langsung sosok Pak Jokowi dengan kontestasi di lapangan," ujarnya. 

Menurut Yudi, melesetnya hitung cepat dari target dikarenakan tingginya persaingan antara sejumlah calon anggota legislatif di lapangan. "Coba bayangkan, ada 6.600 caleg berkelahi di bawah, semua itu berusaha untuk saling memenangkan kontestasi ini," tuturnya. 

Tak mau bagi-bagi kursi 

Petinggi PDI-P menggelar pertemuan tertutup di kediaman Megawati Soekarnoputri, Jalan Teuku Umar 27A, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu malam. Pertemuan itu dihadiri Megawati; Sekjen PDI-P Tjahjo Kumolo; Ketua Badan Pemenangan Pemilu Puan Maharani; dua Wakil Sekretaris Jenderal PDI-P Hasto Kristianto dan Erico Sotarduga; putra Mega, Prananda Prabowo; dan kader PDI-P, Andi Widjajanto. Pertemuan membahas evaluasi Pileg 2014 menentukan siapa parpol yang bakal dijajaki untuk kerja sama politik dan siapa pendamping Jokowi merebut kursi RI 1.

Wakil Sekretaris Jenderal PDI-P Hasto Kristianto mengatakan, mengikuti prosedur partai, evaluasi resmi pileg akan diungkapkan saat kongres DPP PDI-P. Di kongres itulah, DPP dan Bapilu akan mempertanggungjawabkan hasil Pileg 2014 ini. 

Jokowi menambahkan, meski lolos dari target suara, PDI-P tetap menatap ke depan. Pertama, pihaknya akan menjajaki siapa parpol yang akan diajak bekerja sama dan bergotong royong membangun bangsa. Jokowi menolak dinamika itu disebut koalisi. Menurut dia, koalisi lebih identik dengan bagi-bagi kursi.

"Merangkul semakin banyak partai semakin baik, tapi dengan catatan, jangan sampai jadinya hitung-hitungan kursi menteri dan lain-lain. Intinya, kami terbuka," ujar Jokowi. 

Kedua, PDI-P sekaligus menggodok kriteria calon wakil presiden pendamping Jokowi. Prosesnya adalah menetapkan kriteria, kemudian diarahkan ke sejumlah nama, lalu dikerucutkan ke beberapa nama saja hingga ke tahap penentuan nama.

Jokowi menegaskan, selain Megawati, dirinya adalah penentu siapa yang akan mendampinginya. Ketiga, Jokowi mengatakan bahwa pengorganisasian masa di pileg dan pilpres sangat berbeda. 

"Minggu depan, pokoknya mesin panas partai mulai bergerak, tunggu saja," ujar Jokowi. - KOMPAS

Read More..

Pengaruh Jokowi di Perolehan Suara PDIP

Pencalonan Joko Widodo (Jokowi) sebagai calon presiden oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), tidak memberikan banyak efek terhadap perolehan suara partainya di pemilihan legislatif.

Sebelumnya banyak yang menduga dengan pencalonan Jokowi, bisa membuat PDIP bisa menembus raihan 30 persen suara pileg.

"Efek Jokowi tidak sebesar yang orang duga bisa membuat PDIP sampai meraih 30 persen. PDIP mustahil mencapai 30 persen," kata pendiri lembaga survei Lingkaran Survei Indonesia Denny JA di Kantor LSI, Rawamangun, Jakarta Timur, Rabu (9/4) kepada wartawan.

Denny menambahkan, efek Jokowi menurun seiring kampanye negatif yang dialamatkan kepada pria kelahiran Solo, yang kini menjabat Gubernur DKI Jakarta ini.

Bahkan, Denny menyebut ini merupakan pertama kalinya tingkat popularitas dan elektabilitas Jokowi menurun. “Ini baru pertama kalian Jokowi menurun. Tampaknya tidak tahu apakah sampai Juli nanti (Jokowi) bisa sepopuler sekarang,” ujar Denny.

Dia pun membandingkan bahwa Susilo Bambang Yudhoyono pada April 2009 lalu, elektabilitasnya mencapai 60 persen. Sedangkan Jokowi, lanjut Denny, pada April 2014 ini baru mencapai 40 persen.

Nah sekarang, Denny mengaku belum berani menyatakan bahwa pilpres akan berlangsung satu putaran saja untuk kemenangan Jokowi.

"Jokowi di bulan April 2014 tidak sekuat SBY di  Bulan April 2009 lalu. SBY dulu 60 persen, sedangkan Jokowi sekarang 40 persenan saja. Sehingga waktu itu (2009), saya berani kampanye satu putaran saja,” paparnya.

Menurut Denny, Jokowi juga akan terus digempur oleh lawan-lawan politiknya dalam bentuk black campaign. Namun, kata dia, black campaign itu akan menguntungkan Jokowi sebab berbentuk fitnah. "Kalau negatif campaign itu ada adanya," kata Denny.

Setidaknya ada dua isu kampanye negatif yang akan dialamatkan kepada Jokowi. Pertama, kata dia, janji Jokowi untuk memimpin DKI Jakarta lima tahun.

Kemudian, kasus dugaan korupsi pengadaan bus Transjakarta yang terjadi di masa kepemimpinan Jokowi. "Kita tidak tahu seberapa jauh Jokowi terlibat. Tapi, dua isu itu akan menjadi kampanye negatif terhadap Jokowi. Apalagi kalau itu dieksplor terus, misalnya Kejaksaan Agung memanggil dan memeriksa Jokowi, maka akan menjadi problem," ujar Denny.

Menurutnya, Jokowi akan mengalami penggembosan sehingga tidak seharum dulu lagi. Karenanya, itu menyebabkan untuk pertama kalinya Jokowi merosot dan efeknya tidak sebesar seperti yang orang kira.

"Sejak Maret dideklarasikan menjadi capres, attacking ke dia (Jokowi) banyak. Opini publik kita labil. Dulu misalnya publik suka SBY, sekarang tidak. Dulu suka Jokowi, sekarang mengalami penurunan,” paparnya. (JPNN)

Read More..

Iklan Jokowi Muncul di Laman Viva.co.id

Presiden Direktur Viva.co.id Anindra Ardiansyah Bakrie atau biasa disapa Ardi Bakrie disebut murka gara-gara munculnya iklan bakal calon presiden PDI Perjuangan Joko Widodo di laman Viva.co.id menjelang pemilu legislatif.

Amarah Ardi, putra bakal calon presiden Partai Golkar Aburizal Bakrie alias Ical, itu disampaikan melalui surat elektronik ke sejumlah petinggi redaksi Viva.co.id. Hal itu diungkap kompasianer dengan nama Susi Avivah
 yang mengunggah tulisan pada Senin (7/4/2014).

Dalam e-mail tersebut, Ardi meminta iklan Jokowi segera diganti. Bahkan, jika ada yang tidak suka dengan kebijakannya itu, ia mempersilakan untuk mundur. Ia menunggu surat pengunduran diri itu sebelum "ayam berkokok".

Dua sumber Kompas.com di redaksi Viva.co.id membenarkan kemarahan Ardi tersebut. "E-mail itu benar," kata salah satu sumber di redaksi Viva.co.id.
Masih menurut sumber itu, redaksi kerap diintervensi mengenai pemberitaan Jokowi.
Berikut isi surat elektronik tersebut:

"Para Direksi, khususnya Pemred,
Saya yakin banget di tmpat kita telah disusupi orang yang hatinya tidak satu arah dengan perusahaan yang pernah saya sampaikan.

Kalau keyakinan saya salah mengenai penyusupan, tandanya pada bodoh saja semua yang kerja disitu kalau tidak melihat kesalahan ini.

Baru saja saya lihat, mungkin selama satu jam, di tempat paling sakral kita, yaitu di bagian foto yang selalu berganti-ganti, ada gambar Jokowi coblos no. 4.

Persis sekali seperti iklannya yang ditaruh di sebelah kanan yang memang bagian advertising. Ide siapa sih ?? Bodoh sekali!!! Pura-pura ngga ngerti, sengaja, apa emang dibayar sm partai lain untuk melakukan itu di tempat yang paling sakral itu??

Kalau mengenai iklan PDIP yang ada di sebelah kanan itu, saya bisa sedikit mengerti karena maksudnya berjualan di tmpat jualan, bukan di bagian redaksional.  Walaupun saya  juga  tidak suka dan tolong utk diganti sekarang.  Materi akan saya attachkan pada email ini dan berikutnya untuk dipasangkan berganti gantian disitu.  Thx.

Apabila ada yang tidak suka akan kebijakan saya ini, silahkan ajukan surat resignation sebelum ayam berkokok besok pagi. Lebih cepat lebih bagus. Saya benci orang2 munafik atau pun orang bodoh yang tidak loyal.

PS:
Saya emailkan dgn gmail krna bisa di attach file lebih besar, bukan karena saya takut.

Kalau hubungannya mengenai orang tua yang di dzolimi, ngga ada takutnya saya. semua halal!!!
Rgds,

AAB

2 Attachments"

Dewan direksi Viva.co.id Uni Zulfiani Lubis tidak mau berkomentar mengenai hal itu. "Saya belum baca tulisan di Kompasiana, cuma sudah ramai di teman-teman Viva. Sekarang saya sudah tidak di Viva, sekarang saya full di ANTV," ucap Uni ketika dihubungi. Dalam laman Viva.co.id, Uni masih tercatat sebagai Editor in Chief.

#Sumber : Kompas

Read More..

Pesona Jokowi dan Harapan Warga Papua

Bakal calon presiden PDIP Joko Widodo menjadi orator dalam kampanye pemilihan legislatif di Jayapura, Papua, Sabtu (5/4/2014). Nama Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo alias Jokowi relatif populer di Indonesia bagian timur. Hal itu terlihat dari aksi kampanye menjelang pemilu legislatif yang dilakukan bakal calon presiden PDI Perjuangan itu selama Sabtu (5/4/2014) siang hingga sore.

Sejak kedatangannya di Sorong pukul 10.00 WIT, hingga saat blusukan di Pasar Youtefa, Jayapura, pukul 01.00 WIT, Jokowi tidak lepas dari kerumunan warga Papua. Seperti di kota-kota lain yang telah disambangi, warga berebut bersalaman atau foto bersama.

Meski tidak semuanya mengetahui persis seperti apa sosok Jokowi, bagaimana rekam jejaknya, dan lain-lain, beberapa warga Papua yang diwawancarai Kompas.com menaruh harapan besar terhadap Jokowi.

"Saya sudah dari tahun 1980 jual tomat di sini (Pasar Youtefa), tapi tidak ada perubahan. Tidak pernah ada bantuan pemerintah yang datang. Saya maunya diberi kios supaya berkembang," ujar Maria Wadi Griapon (50), salah satu pedagang.

Perempuan dengan lima anak itu berharap, siapa pun pemimpinnya nanti mampu mewujudkan pemerataan pembangunan di Papua. Dari persoalan listrik saja, lanjut Maria, pemerintah belum sanggup menyediakan listrik yang merata. Belum lagi persoalan yang lain, seperti infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan.

Kiro Saga (40), salah satu warga Jayapura, mengatakan, suara warga Papua sangat menentukan keterpilihan Jokowi menjadi presiden. Menurut dia, jika Jokowi mampu menaklukkan suara di Papua, ia yakin Jokowi memenangi suara di Indonesia.

"Persoalan di provinsi ini paling banyak dan rumit dari daerah lain. Ada gangguan gerakan separatis, ada kontrak kerja pemerintah dengan Freeport, kemiskinan, dan lain-lain. Kalau Jokowi mampu menjanjikan pembenahan bagi kami dan kami percaya, ah itu sudah, Indonesia langsung pilih dia," ujar lulusan Universitas Cenderawasih tersebut.

Selesaikan dengan hati
Blusukan Jokowi dari pasar ke pasar di bumi cenderawasih hingga berakhir di lapangan terbuka cukup meyakinkan warga. Puncaknya, warga Papua, khususnya para simpatisan PDI Perjuangan yang hadir dalam kampanye terbuka di Lapangan Entrop, Jayapura, tersulut api semangat saat Jokowi menyebutkan mengapa Papua dipilih menjadi lokasi kampanye.

"Saya datang ke Papua karena apa, karena matahari terbitnya di Papua. Dan saya yakin, persoalan-persoalan di Papua akan bisa diselesaikan dengan hati," ucap Jokowi.

Ribuan simpatisan PDI Perjuangan yang tadinya diam lalu bergemuruh mendengar orasi politik Jokowi. Mantan Wali Kota Surakarta itu tidak mau berjanji terlalu banyak. Jokowi sudah mengetahui bahwa persoalan di Papua bukanlah persoalan kurangnya anggaran, melainkan pembenahan infrastruktur serta pelayanan dasar bagi warga.

"Jadi memang harus disiapkan sumber daya manusia (SDM) supaya pelayanan kesehatan dan pendidikan yang baik itu dapat terwujud," ujar Jokowi seusai kampanye terbuka. Jokowi melanjutkan, kurangnya pembangunan infrastruktur di Papua adalah salah satu sumber ketertinggalan Papua dengan daerah lain di Indonesia. Salah satu jalan keluarnya, yakni dengan menghubungkan Papua dengan pulau-pulau yang lainnya di Indonesia.

"Kalau ada koneksitas, hubungan satu sama lain akan terjadi dan kemakmuran dapat terjadi di segala penjuru Tanah Air," lanjutnya. Soal kontrak kerja antara Pemerintah Indonesia dan PT Freeport, Jokowi belum mau membahasnya. Dia mengaku akan mengomentari hal itu seusai pemilihan kursi legislatif.

Kampanye Jokowi di Papua berjalan lancar, meski pada hari yang sama terjadi baku tembak antara aparat keamanan dan anggota kelompok sipil bersenjata (KSB) di perbatasan RI-Papua Niugini sehingga menyebabkan seorang polisi dan TNI terluka. Imbasnya, pengamanan terhadap Jokowi menjadi lebih ketat. Warga yang ingin berinteraksi dengan Jokowi menjadi dibatasi. - Kompas -

Read More..